Sabtu, 16 Juli 2016

Tuhan Aku Lelah

gambar lelah, tuhan aku lelah ya allah

Malam guys.
Nulis sambil dengerin beberapa lagu kesukaan. Hehe.

Barusan gue sempet baca status BBM (Black Berry Messanger) salah satu temen gue, yang ga bisa gue sebutin namanya, “Tuhan aku lelah”. Begitu isinya, kata kata lelah di akhiri dengan emoticon nangis sebanyak 5 biji.

Gue jadi berfikir, seberapa besar sih ujian yang Tuhan kasih buat dia? Apa terlalu besar hingga berkata “lelah”?

Gue jadi inget sama wejangan dari si om Kiki, owner “infight” salah satu merk pakaian distro yang ada di kota kembang Bandung.

andai kita itu diibaratkan cangkir, ga mungkin kita dikasih cobaan sebesar ember”, begitu katanya. Yah betul, cobaan ataupun ujian pasti sesuai dengan kapasitas kekuatan diri kita. Bisa kurang, tapi ga mungkin lebih. Contoh lainnya mungkin anak SD kelas 1 ga mungkin sang guru memberi soal ujian kelas 5 SD.

Pernah ga baca meme ini?, “aku merindukan masa kecil yang ujian terberatnya adalah matematika”, gue pengen deh rasanya tepokin jidat mereka-mereka yang pasang meme ini. Ayolah, Tuhan itu percaya sama kita hingga Dia masih ngasih kesempatan kita hidup hingga hari ini, karena Dia yakin kita mampu lewatin pertarungan ini.

Lelah hati wajar, tapi mestinya mental kita itu semakin kuat saat diberi ujian, bukan semakin lembek. Karena saat kita bisa lewatin hari ini, kita otomatis naik satu level. Dan di level selanjutnya ada ujian yang mungkin lebih berat lagi.

Penenang gue saat kena masalah cuma satu, yaitu ada di surat Al-Insyiroh ayat ke-5 dan ke-6 “maka sesungguhnya disetiap masalah itu disertai dengan jalan keluar. Sesungguhnya disetiap masalah itu disertai dengan jalan keluar”.

Allah nekanin sampe 2 kali lho di surat itu, bahwa jalan keluar itu bersifat pasti. Hanya saja kita bisa sabar sebentar lagi ga? atau menyerah hari ini. Makanya gue selalu yakin, ada sesuatu yang indah setelah ini, setelah kita bisa lewatin ujian kesabaran.

Tapi ada yang menarik dari omongan alm KH. Zainuddin MZ “sujud ga pernah, ibadah susah, sholat ga ngerti, pas kena musibah bilangnya “gue lagi diuji ni” siapa yang nguji? Sekolah kagak, ikut ulangan” haha

Intinya mungkin beliau nyuruh kita buat introspeksi diri bahwa ujian hanya untuk orang yang beriman, tapi teguran (hukuman/adzab) untuk orang-orang yang ngeyel.

Yukk, berfikir positif atas ujian yang Allah beri. Yakini bahwa semua ini adalah yang terbaik bagi kita. Jangan dulu menyerah dan menggunakan kata kata lelah, Allah pasti ga suka. Muslim itu harus jadi pemenang “hayya ‘alal falaah” “marilah meraih kemenangan”, diseru lima kali dalam sehari.

Born to fight” begitu kata si om kiki.

Ssssssttt... saat lutut udah ga sanggup buat berdiri, bersujudlaah. Itu sangat menenangkan guys. Tapi inget, berdiri lagi. Hehe..

Semoga bermanfaat.

Silahkan di share :)
Thnx.

Kamis, 14 Juli 2016

Motivasi Kerja

motivasi kerja

Malam guys..

Tadi sore sempet ada temen yang mampir ke tempat kerja, dia nanyain lowongan kerja. Gue bingung kalo udah ada yang minta kerjaan sama gue. Disatu sisi gue juga ga bisa liat mereka nganggur. Apalagi temen gue ini udah hampir 4 tahun ga jelas banget kegiatannya. Tapi di sisi yang lain gue ga bisa masukin mereka kerja. Siapa gue? Disitulah kadang gue merasa sedih.

Angka pengangguran di Indonesia banyak banget, apalagi angkatan 2015-16 kemarin baru aja lulus. Angka pengangguran pasti bertambah lagi.

Gue jadi inget waktu dosen gue di semester pertama DRS. Sudarno, MM. Beliau ngajar mata kuliah Mikro sama Makro. Beliau pernah nanya ke semua mahasiswa yang hadir malam itu (gue kuliah kelas malam). Apa penyebab banyaknya angka pengangguran di Indonesia? Tanya beliau. Hampir semua mahasiswa menjawab, minimnya lapangan pekerjaan dan rendahnya pendidikan. “salah” kata beliau. Lapangan pekerjaan itu pada dasarnya banyak. Yang harus ditanyakan adalah, motivasi kerja si pengangguran itu sampai dimana? Permasalahannya hanya terletak di “mencari kerja atau ingin kerja”. Jika mencari kerja, maka kemungkinannya mendapat pekerjaan atau tidak. Tapi jika ingin kerja pasti mendapat kerjaan.

“Disekeliling kita itu banyak lapangan pekerjaan, jadi tukang motongin rumput halaman tetangga aja itu lapangan pekerjaan” terang beliau.

Penyebab lainnya menurut beliau adalah minimnya skill yang dimiliki SDM di Indonesia. Ya, menurut gue sayang sekali jika kita hanya lulusan sekolah yang hanya menerapkan teori-teori tanpa diiringi dengan skill dan kreatifitas.

Sangat setuju dengan ucapan mas Ippho Santosa “hidup semakin kompetitif, maka kita harus semakin kreatif”. Tanpa skill dan kreatifitas kita akan semakin tertinggal dari orang lain.

Gue sendiri sangat bersyukur masih dikasih kerjaan sama gusti Allah. Setiap gue mau ngeluh dengan lelahnya kerjaan, dengan problem-promblem di tempat kerja, gue selalu ingetin diri gue sendiri hari ini masih banyak orang yang nengteng-nengteng lamaran pekerjaan untuk melamar kerja.

Pernah ga sih, kita nuntut perusahaan untuk naikin upah kita?, minta bonus ini dan itu. Tapi jarang sekali kita berfikir, pantaskah kita atas kontribusi kita terhadap perusahaan mendapatkan upah yang kita terima sekarang?.

Problemnya di Indonesia “mereka lebih baik berhenti bekerja karena upah kecil dan menjadi parasit keluarga”. Kata-kata om Mario Teguh itu semoga menjadi kata-kata penyemangat bagi kita, agar kita selalu berusaha bertahan. Jangan dulu lepaskan, menjadikan batu loncatan untuk mencari sesuatu yang lebih memiliki progres.

Kita harus percaya, saat upah kita hanya 3 juta tapi kita bekerja seolah upah kita itu 6 juta, maka jangan takut, insya Allah itu adalah jalan keberkahan, dan kebahagiaan.

Yukk biasakan kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas. :)

Semoga bermanfaat.
Silahkan di share.
Thnx :)

Hidup Itu Pilihan

hidup itu pilihan, hidup adalah pilihan, kata kehidupan

Malem guys.

Barusan itu antara pengen nulis atau malesan-malesan maenin hape sambil dengerin musik. Berhubung punya target apa yang harus direalisasikan dari blog ini sendiri, maka gue putusin buat nulis.

Yah betul, “Hidup adalah pilihan”. Makanaya gue putusin buat nulis.hehe..

Hidup itu pilihan adalah kata kata bijak tentang kehidupan atau kata kehidupan yang sangat lumrah kita dengar, bahkan udah jadi kata mutiara hidup bagi sebagian orang.

Pernah ga sih, kita bingung menentukan pilihan? Padahal selama kita masih bernafas, hidup itu selalu menawarkan pilihan di sepanjang perjalanan kita. Simplenya kita berhak memilih menjadi seorang dermawan atau seorang yang pelit, durhaka pada orang tua atau berbakti, pemaaf atau pendendam.

Tapi, kalo contoh-contohnya sesederana itu sih kita akan mudah menentukan pilihan. Jelas kita akan memilih menjadi seorang dermawan, berbakti dan memilih menjadi pemaaf. Karena pilihannya diantara kebaikan dan keburukan. Meskipun entah sejauh mana bisa menjalankannya. Sedangkan hidup terkadang tidak sesederhana itu, kadang ada sebuah jalan dengan jalan yang bercabang dan kita mau ga mau harus menentukan pilihan. Karena hidup itu pilihan.

Kadang kita galau menentukan pilihan antara mau jadi pekerja atau pengusaha, antara nikah atau lanjut kuliah, antara sekolah negeri atau pesantren (ini hanya sebagian contoh dari banyaknya pilihan yang hidup tawarkan guys).

Ini sih cuma pendapat gue. jadi gue rasa saat kita sulit menentukan pilihan, itu hanya dampak dari kurang tegasnya diri kita. Tegas terhadap diri sendiri memang sulit. Tapi saat kita mampu tegas, kita ga bakal pernah galau. Tegas menentukan pilihan bukti bahwa kita berani atas segala konsekwensinya.

Pernah liat, cewe yang pacaran tapi galau? Galau gara-gara udah ngerasa sayang sama cowonya tapi sering juga disakitin sama cowonya. Diputusin udah sayang banget, umur pacarannya udah terlalu lama, takut ga ada pengganti. Itu macem-macem alesan buat ga mutusin cowonya. Jadi cuma bisa memaafkan dan memberi kesempatan lagi dan lagi. Tapi apa? dikemudian hari cowonya mengulangi kesalahan yang sama. Kita bisa lihat dari hal itu, saat cewe itu tegas buat ninggalin pacarnya mungkin rasa sakit ga bakal terulang lagi dan lagi.

Mungkin juga kita terlalu banyak alanisis terhadap apa yang akan kita pilih. Analisis boleh, tapi jangan terlalu banyak jangan terlalu lama. Saat kita terlalu lama menunda menetukan pilihan, maka akan tertunda juga sesuatu yang besar dalam kehidupan kita di episode selanjutnya.

Beranilah mengambil keputusan! Yah, berani mengambil keputusan adalah rumusan sukses pengusaha batu akik asal lampung yang sekarang jadi orang besar di Cibadak.

Putuskanlah untuk memilih, niatkan, yakini itu adalah pilihan yang terbaik, hadapi setiap kemungkinan dan resiko yang bakal terjadi. Jadilah pemenang! Atau kita juga berhak memilih, memilih untuk tidak memilih apapun, memilih untuk tetap takut pada pilihan dan memilih bahwa hari esok kita harus menjadi seorang pencundang.

Mau jadi pengusaha atau pekerja? Tentukan sekarang!
Mau sekolah negeri atau pesantren? Tentukan sekarang!
Mau jadi konsultan atau desainer? Tentukan sekarang!

Saat kita menentukan pilihan sekarang, maka tujuan kita akan jelas. Kita ga bakal bingung apalagi galau-galau ga jelas. Meskipun gue masih kerja di perusahaan orang tapi gue putusin jadi pengusaha, so langkah-langkah gue selanjutnya sangat mengarah pada wirausaha. Dan sedang menyusun rencana dan mentargetkan kapan harus berhenti dari perusahaan orang ini.

Memilih terkadang memang tidak mudah, tapi saat kita tegas dan berani mengambil keputusan maka sungguh itu perjalan terbaik yang kita tempuh dengan segala resiko yang ada.

Oya, memeluk hening bisa juga loh dijadikan arena merenung untuk menentukan pilihan. Hehe..
Udah dulu kali yah nulisnya. Hidup adalah pilihan sobat.

Jika bermanfaat, silahkan pilih di share atau hanya dimiliki sendiri saja. Hehe..
Bye,

Thnx.. :)